Age still matter….

Standard

Kalau Pasangan Lebih Tua
Minggu, 11 oktober 2009

SEORANG teman mengaku selalu tertarik pada pria yang jauh lebih tua. Menurut dia, pria tua selain lebih matang, bijaksana, juga sudah pasti mapan. Beberapa perempuan kemudian memang memutuskan memilih pasangan hidup yang jauh lebih tua. “Saya pikir dengan suami yang jauh lebih tua, pasti saya bahagia,” kata teman tersebut.
Latar belakang pemikiran tersebut, menurut psikolog praktik Dewi Ku-maladewi, memang tidak salah, berdasar pada sifat perempuan. “Pada dasarnya, perempuan suka dengan perlindungan, kemanjaan dan perhatian,” kata Dewi.
Lantas perempuan berpikir, bahwa tiga peluang tersebut jauh lebih besar terdapat pada pria yang lebih tua dibandingkan dengan pria muda atau seusia. Pria muda justru menuntut hal yang sama dari pasangannya, akibatnya konflik sering terjadi.
Namun pengalaman pria matang juga bisa menjadi pisau bermata dua, mampu melukai jika digunakan secara tidak benar. Tentang pengalamannya yang kemudian membuat pria bisa memanjakan dan mengerti pasangannya, menurut saya itu adalah “bonus”. Karena ada juga yang menjadikan pengalaman tersebut sebagai senjata untuk memperdaya wanita muda,” kata Dewi mengingatkan.
Namun di sisi lain, perempuan juga harus mengingat bahwa tak ada jaminan bahwa menikah dengan pria lebih tua akan nyaman, karena mereka lebih bijaksana, lebih menyayangi dan lain sebagainya. Sebab, kematangan dan kebijakan tidak ditentukan oleh usia.
Selain kelebihan, menikahi pria jauh lebih tua juga ada “kekurangannya”. Anak-anak yang lahir dari pernikahan masih kecil-kecil dan membutuhkan biaya besar pada saat suami sudah tidak berdaya dari sisi mencari penghasilan (pensiun).
“Soal anak yang masih kecil dan ayah nonproduktif, bisa disiasati denganmengikuti program asuransi. Kini ada banyak jenis asuransi yang fleksibel yang sesuai dengan kebutuhan,” kata psikolog yang berpraktik di dua klinik psikologi ini.
Beberapa orang mengkhawatirkan pasangan suami istri yang beda jauh usia bisa terganjal masalah hubungan seksual. Dikhawatirkan pria tua tidak bisa melayani kebutuhan istrinya yang relatif masih muda.
“Soal kebutuhan seksual, sifatnya individual dan sangat kasuistik. Artinya, secara umum pria masih mampu melakukan relasi seksual hingga usia tujuh puluh tahun. Dengan catatan lifestyle dijaga baik. Soal kualitasnya, juga bisa disiasati dengan kemajuan teknologi dan fasilitas sebagai alat bantu,” kata Dewi.
Ada pula orang yang justru enggan dan khawatir jika menikah dengan pria yang lebih tua, karena ditengarai bermasalah dan menjadi penyebab masih melajang hingga saat itu.
Menurut Dewi, pikiran kritis itu cukup baik. Ia menganjurkan sebaiknya diselidiki terlebih dahulu secara cermat, apa penyebab dia terlambat atau pernah menikah dan bercerai. Bisa saja ia terlalu asyik dengan tugas menyekolahkan adik atau menjadi tulang punggung keluarga, atau mungkin memang mempunyai masalah relasi sosial. Jika yang terjadi adalah hal yang kedua, sebaiknya dipikirkan dulu akibat-akibat yang ditimbulkannya. Siapkah berhubungan dengan pasangan rang memiliki masalah relasi sosial tersebut?
Menurut beberapa literatur dan penelitian yang pernah dipelajarinya, Dewi menyebutkan bahwa beda usia pasangan yang ideal adalah lima tahun, perempuan lebih muda. “Jarak tersebut dianggap tidak terlalu jauh, sehingga tidak ada gap yang terlalu jauh pula. Juga tidak terlalu dekat, sehingga kebutuhan dan stabilitas emosinya sama,” kata Dewi menyarankan. (Uci)***

***artikel diambil dari http://www.bataviase.co.id (kalo g salah)..
plus yg ngetik kok namanya sama kyk aku ya…
Plus poinnya kok cocok bgt ya…age still matter…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s