Berapa jumlah pasir dan bintang di jagad raya ini…?

Standard
Setiap kali menikmati bintang di langit, pemandangan alam, peristiwa bahkan bencana alam. Gw selalu mikir bahwa siapa yang menggerakan dan menciptakan semua itu. Jelas banget dari ketika kita lahir ngoek-ngoek, bintang itu sudah ada dilangit. Dari kita mulai merasakan sentuhan pertama kali ibu, kasarnya pasir itu sudah bisa dirasakan dipantai.

Setiap kali gw menghitung bintang, rasanya gw ngga pernah sanggup sama seperti ketika gw mencoba menghitung pasir.. ha ha pekerjaan bodoh bukan..tapi itu makna bahwa ada sesuatu yang luar biasa di dunia ini..

gw belum nemu penelitian asli yang mengatakan mana yang lebih banyak ? pasir ataukah bintang..tapi gw nemu artikel seru dan kalo saja ada yg nemu jumlahnya boleh donk posting ke gw atau mention gw he he

RABU, 29 MEI 2013 23:14
 Banyak orang memahami, bahwa isro’ mi’raj adalah sebagai peristiwa spiritual. Pemahaman seperti itu  kiranya tepat. Sebab kegiatan  itu, selain tidak bisa dirasionalkan, juga hanya dialami oleh Nabi sendiri. Orang lain, walaupun shahabatnya sendiri misalnya,  tidak akan bisa diajak serta. Perjalanan di malam  hari itu, hanya bisa dipahami  lewat keimanan, sebagaimana ditunjukkan  oleh Abu Bakar.

 

Akan tetapi tidak menutup kemungkinan peristiwa yang menakjubkan  itu sebenarnya dapat dipahami dari perspektif lain, misalnya tentang betapa seharusnya umat manusia memahami ilmu pengetahuan. Selain itu juga menggambarkan, betapa luas ilmu pengetahuan itu  menurut pandangan Islam, dan bagaimana seharusnya mencari  dan mengembangkan. Sementara itu, yang banyak kita saksikan tatkala menyebut ilmu yang bernuansa Islam selalu  terbatas, yaitu ilmu-ilmu yang terkait dengan syari’ah, dasar-dasar pemahaman agama atau ushuluddin,  dan sejenisnya.

 

Cara pandang tersebut tentu tidak salah. Akan tetapi,  dari kisah isra’ dan mi’raj  kiranya justru seharusnya  direnungkan kembali, bahwa wilayah keilmuan yang ditunjukkan Dzat Pemilik Ilmu lewat peristiwa yang menakjubkan itu sedemikian luas.  Dari isra’ dan mi’raj, Nabi dengan didampingi oleh Malaikat Jibril,  ditunjukkan oleh Allah di antara ilmu-Nya yang amat luas. Dikatakan “linuriyaahu min ayaatina”. Nabi dipanggil untuk menjelajah ke tempat yang hingga tidak mungkin orang lain, siapapun mereka, bisa menjalaninya.   

 

Lewat kisah isra’ mi’raj itu,  sekembali dari sidratul muntaha,nabi  kemudian menceritakan kepada para sahabatnya tentang apa saja yang dilihat dari perjalanan yang hanya semalam itu. Berbagai hal dan peristiwa dilihat,yang semuanya adalah merupakan ayat-ayat Allah. Lewat peristiwa itu, Nabi diperjalankan pada jarak yang sedemikian jauh, yang tidak mungkin diukur dengan ukuran yang bisa dihitung oleh manusia melalui teknologi supra  modern sekalipun.  Jarak yang sedemikian jauh dan juga pengetahuan yang sedemikian banyak dan luas   hanya memerlukan  waktu dalam satu malam. 

 

Nabi juga diperlihatkan tentang langit yang berlapis-lapis, disebutkan hingga berlapis tujuh. Sementara ini, para ilmuwan hingga kini belum mengenal tentang  konsep  itu. Bahwa langit adalah berlapis tujuh adalah informasi yang kita dapatkan dari al Qur’an,  dan juga lewat kisah yang dibawa oleh Nabi Muhammad ketika mi’raj. Selama ini,  belum pernah ada informasi tentang adanya lapis-lapis pada langit itu. Mungkin suatu saat, informasi  itu dibenarkan  oleh hasil kajian ilmu pengetahuan.

Hal seperti tersebut itu adalah sama dengan informasi dari  nabi tentang betapa besar jumlah bintang di jagad raya ini. Suatu ketika, nabi pernah ditanya oleh sahabatnya tentang jumlah berbagai jenis bintang di jagad raya.  Nabi menjawab, bahwa jumlah bintang itu lebih banyak dari pasir di laut.  Kiranya belum juga  ada temuan tentang jumlah pasir, apalagi   di laut yang sedemikian luas. Akan tetapi, Nabi  menggambarkan tentang jumlah bintang itu  jauh lebih banyak dibanding jumlah pasir di laut. Sekarang ini, sudah mulai ada ilmuwan yang memberi informasi tentang  benda-benda langit, dan dikatakan bahwa memang milyaran jumlahnya.

 

Utusan Allah ini juga dipertemukan dengan nama-nama orang yang sebelumnya hanya dikenali  dari namanya, yaitu Nabi Adam,  Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, dan lain-lain.  Semua   nabi itu sebenarnya sudah wafat jauh sebelum masa kehidupan Nabi Muhammad diutus ke muka bumi. Akan  tetapi, lewat isra’ dan mi’raj,  ternyata dalam kisahnya,  ditemui oleh utusan Allah yang terakhir  ini. Maka wahyu yang mengataan bahwa,  telah ada di masa dahulu para kekasih Allah dan mereka sudah wafat  tetapi dapat hidup kembali, ternyata benar-benar disaksikan  sendiri oleh Rasulullah. Ayat-ayat Allah itu berhasil diketahui oleh Nabi melalui isra’ dan mi’raj.

 

Lewat kisah itu, saya merenungkan bahwa ternyata Nabi diperlihatkan dan diajari oleh Allah ilmu pengetahuan yang sedemikian luas. Ciptaan Allah yang maha luas  itu berhasil dikenali oleh Nabi Muhammad melalui mi’raj. Atas dasar pemahaman itu, saya berimajinasi, bahwa anak-anak di sekolah atau mahasiswa di kampus, ——–sebagaimana nabi,  diajak oleh gurunya mehamai alam semesta melalui pelajaran  biologi, fisika, sejarah, antropologi,  kimia, sosiologi, matematika, psikologi, bahasa, sastra dan lain-lain. Oleh karena itu, para guru yang  sehari-hari mengajarkan  ilmu-ilmu dimaksud, melakukan peran-peran sebagaimana Malaikat Jibril, mendampingi para siswa, ——–sekalipun terbatas,  mempelajari  ayat-ayat Allah untuk keperluan mengenal-Nya.  

 Manakala pemaknaan tersebut  yang  kita kembangkan,  maka sebenarnya lewat peristiwa isra’ dan mi’raj yang dahsyad ini akan membuka mata kepala kita semua,  bahwa agar seseorang  yakin, ainul yakin,  dan bahkan haqqul yakin terhadap kebenaran yang dibawa oleh utusan-Nya, yaitu Muhammd saw., maka  semua jenis pelajaran di sekolah adalah bagian dari upaya untuk mengantarkan  peserta didik mengenali dirinya sendiri dan selanjutnya agar mampu mengenal Tuhannya. Oleh karena itu, sementara ilmu yang selama ini diangap tidak ada kaitannya dengan al Qur’an dan hadits, ——–yaitu ilmu alam, ilmu sosial,  dan humaniora, maka justru menjadi bukti untuk  mengenal Tuhan. Atas dasar pandangan itu, maka sebenarnya peristiwa isra’ mi’raj bukan saja merupakan perjalanan spiritual,  melainkan juga perjalanan keilmuan. Wallahu a’lam.  

  from : http://www.uin-malang.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=3853:memaknai-isra-miraj-sebagai-perjalanan-keilmuan&catid=25:artikel-imam-suprayogo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s