Ngga jujur, ngga mujur

Standard

Nggak Jujur, Nggak Mujur

Nabi Yusuf ‘alahissalam memiliki saudarasaudara yang iri kepadanya. Menurut mereka Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah mereka (Nabi Ya’qub ‘alahissalam). “Sesungguhnya ada beberapa tanda kekuasaan Allah pada (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya. (yaitu) ketika mereka berkata,”Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata.” (QS Yusuf : 7-8)

Rasa iri itu memuncak dan menggiring mereka untuk membuat makar terhadap Yusuf. Mereka ingin membunuh atau membuang Yusuf agar sang ayah tidak lagi memberikan perhatian kepadanya. Sebaliknya, mereka berharap, perhatian sang ayah akan ditumpahkan untuk mereka saja. Mereka merengek-rengek kepada sang ayah agar Yusuf diizinkan pergi bersama mereka untuk bermain-main dan bersenang-senang di tempat yang jauh. Mereka meyakinkan sang ayah bahwa mereka adalah orang-orang yang kuat dan sanggup menjaga keamanan adiknya. Nabi Ya’kub sang ayah yang sholeh sudah menangkap gelagat tidak baik pada mereka. “Sesungguhnya kepergian kamu bersama Yusuf amat menyedihkanku dan aku khawatir kalau-kalau dia dimakan serigala, sedang kamu lengah daripadanya. Mereka berkata, “Jika ia benar-benar dimakan serigala sedangkan kami (golongan yang kuat), sesungguhnya kalau demikian , kami benar-benar orang-orang yang merugi.” Akhirnya mereka pun pergi dan membuang Yusuf kecil ke dalam sumur.Aksi mereka pun berlanjut dengan tipu muslihat, ketidakjujuran, dengan kebohongan yang dibuatbuat. Kemudian mereka datang kepada ayah mereka pada sore hari sambil menangis. Mereka berkata, “Wahai ayah kami sesungguhnya kami berlomba-lomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala. Kamu sekali-kali tidak akan percaya kepada kami sekalipun kami adalah orang-orang yang benar”. Mereka datang membawa baju gamisnya ( yang berlumuran) darah palsu. Mereka telah berlaku tidak jujur kepada ayahnya dan berusaha terus meyakinkan agar ketidakjujuran mereka itu dianggap sebagai sesuatu yang benar.

Waktu terus berjalan. Nabi Yusuf menghadapi berbagai ujian hidup berat sejak dari sumur itu. Terpisah dari ayah tercinta, dijadikan budak yang diperjualbelikan, ketika dewasa digoda istri penguasa dan seterusnya. Sampai pada saatnya Allah Subhanahu wata’ala memberikan kepadanya kedudukan yang mulia. Lalu, bagaimana dengan nasib saudara-saudaranya yang berlaku tidak jujur itu akhirnya? “Maka, ketika mereka masuk ke (tempat) Yusuf, mereka berkata, “Hai al-Aziz, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan dan kami datang membawa barang-barang yang tak berharga, maka sempurnakanlah sukatan untuk kami, dan bersedekahlah kepada kami….” (QS Yusuf:88). Hidup mereka susah.Betul. Jujur memang membutuhkan keberanian. Karena kejujuran akan dihimpit banyak rintangan, hadangan, dan tantangan. Ketidakjujuran seolaholah membawa keselamatan. Padahal sesungguhnya ketidakjujuran membuka pintu ketidakmujuran bahkan kehancuran. Wallaahu a’lam bish-showab.

Source: http://www.lmizakat.org/index.php?option=com_content&view=article&id=441:nggak-jujur-nggak-mujur&catid=36:catatan-direktur&Itemid=71

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s