Rejeki 200 repes

Standard

Saya punya sedikit cerita yang ingin saya bagi..
cerita ini bisa saja memberikan anda inspirasi, bisa saja memberikan anda makna, ide, kesadaran atau mungkin justru tidak sama sekali.

Itu semua tergantung dengan anda he he

Cerita ini berawal dari beberapa hari yang lalu ketika A menjual sebuah kosmetik kepada pelanggannya. 
Yang namanya jualan, kita pasti akan selalu mengharapkan keuntungan. Prinsip berdagangpun adalah mengeluarkan sedikit untuk mendapatkan yang banyak. Negosiasi pun kurang lebih berprinsip demikian. 

Si A pun bukan orang yang pandai berjualan apalagi memikirkan keuntungan yang banyak, akan tetapi dalam bekerja ia selalu mencoba untuk bekerja dengan jujur dan mau berusaha. 

Bagi A, keuntungan itu nomor dua asalkan nomor 1 adalah kepercayaan dan kepuasan pelanggan.  
Suatu saat ada seorang pelanggan yang memesan kepada A. Barang tersebut kebetulan sedang promo pada bulan tersebut sehingga A pun juga mengatakan kepada pelanggan bahwa barang tersebut sedang di diskon. Dikarenakan akhir bulan, A harus memesan barang tersebut sehingga harganya pun masih dapat ikut promo seperti yang dikatakan A, akan tetapi karena hanya memesan 1 buah barang saja, A dikenakan sejumlah biaya tambahan dimana ia harus merugi sejumlah 800 rupiah. Ya mungkin nilai itu tidak seberapa akan tetapi penjual mana yang ingin rugi ketika berdagang ?

A merasa ia harus menepati janjinya kepada pelanggan untuk bisa memberikan pesanan tersebut sekalipun ia harus merugi. A juga merasa tidak pantas ketika pelanggan kehilangan harga promo tersebut dikarenakan ia harus menunggu pesanan lain demi tidak membayar sejumlah biaya tambahan tersebut. 

Dibenak A, ia kecewa karena harus merugi dalam berdagang., akan tetapi A adalah orang yang jujur dan menepati janjinya, A pun tetap berusaha memberikan yang terbaik untuk pelanggan. A juga selalu percaya bahwa rejeki itu ada yang mengatur dan yang terpenting adalah bekerja dengan baik dan tetapi jujur.

Ketika A menepati janjinya dan memberikan barang pesanan tersebut kepada pelanggan. Kenyataannya, biaya yang diberikan oleh pelanggan tersebut melebihi dan menutupi kerugian A, sekalipun A hanya untung 200 rupiah saja. 

 Dari pengalaman A, kesimpulan yang bisa kita peroleh adalah :

1. Kita tidak bisa mengendalikan rejeki akan tetapi kita bisa berusaha untuk memperoleh rejeki itu. Segala sesuatu didunia ini milik Tuhan semata. Ia yang memberi Ia pula yang mengambil.

2. Bekerja dengan jujur dan menepati janji itu mendatangkan rejeki yang luar biasa. Kita tidak pernah tahu apa yang direncanakan Tuhan untuk kita.

3. Nominal itu tidak seberapa dan bahkan mungkin tidak bernilai apapun, akan tetapi pernahkah kita bayangkan jika jualan kita bernilai milyaran rupiah. Apa yg kita dapatkan dengan kejujuran memberikan keuntungan bagi kita dan bahkan menutupi kerugian yang artinya menutupi kesulitan kita

Jadi,

apakah kita masih berfikir semua yang kita miliki didunia ini hasil kerja keras kita semata ?

apakah diantara kita masih meragukan keuntungan dari bekerja dengan cara jujur ?

🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s